Jumat, 24 Mei 2013

surat pendek untuk senja







aku rindu mengeja baris tentangmu.....
seperti rindu laut pada biru
seperti jingga pada awan
 ya ini rindu yang sama.....

sajakku tak mengering...
aku masih di musim rintik air yang sama
dengan payung hitam yang kau beri
aku masih meneduh di setiaku
kemarau bait yang kemarin itu buka jeda
aku tak lupa dengan kalimat kalimat doa untumu....
aku ingin kau teduh diufuk langitmu

langit senja di imagiku bukan hanya keindahan
ia adalah uraian indah tanpa henti
laksana rintik hujan yang tak tertahankan di savana 
hingga aku tak pernah jenuh  tenggelam di dalam mu
segala tentangmu sudah ku hisap sendiri ...
hingga ku lupa rongga paruku tak cukup menahanya

jingga...
bisakah kau tak pisahkan anatara malam dan senja?
aku ingin , kau indah tak terpisahkan
biar....waktu saja yang memilih
antara jingga dan langit
aku ingin cinta memadukan nya
hinga ufuk menjadi cerah
dan kau pun tesenyum di dalamnya





Rabu, 20 Februari 2013

jendela kecil



aku lebih memilih teduh dibelantara doa
aku hanya akan membawa syair cahaya
aku hanya pelukan dingin dihamparan hangat permadanimu
aku hanya satu huruf diantara berjuta indah abjad indahmu
aku hanya satu jendela kecil yang akan riang jika kau buka

lama aku tak mengeja baris
bukan beku...
aku yang tak sanggup mengungkap sendu
kabar dari langit menghimpun awan pahit
membuat aku mengigil
aku hampir mati hati....

aku memukul mukul kekecewaan pada awan
menghujamkan hujatan pada baris matahari
mengumbar serapah pada hujan
mengapa harus jingga yang kau serap?
sedang aku masih biru beku didalamnya

saat ini aku lebih banyak mengadu
isyarat pasir masih memanggil ombak
sekejap air mengalir
sekejap batu menghadang
hidup adalah aksara panjang dimana kan ada titik yg mengakhiri


disetiap doa malamku
aku tenggelam dalam air mata
membawa harap yg tak pernah pudar
bahwa akhir dari sebuah doa adalah indah
usah meredup pelangiku





Senin, 19 November 2012

doa cinta



Inikah musim rintik air itu?
musim dimana  banyak  udara  rindu  menguap menjadi awan peneduh
membawa butir kesunyian menjadi keagungan yang selalu dipuja pelukis langit
bersahutan  membisikan bahwa aku mencintamu aksara di tulus senyumu
jujur aku tak bisa meloloskan diri dari doa cinta yang kau ucap….


Adakah saksi yang mau kau terangkan pada gelap?
Dikala  garis takdir mengukir mu dalam kerapuhan
Dalam lingkaran kambium yang terjauh  dari ruh jiwamu
Yang mungkin melemahkan  mimpi
Menjadi badai di savana hijau langkah mu

Sungguh aku masih ingin menggenggam jemarimu yang lembut…..
Menghisap cahaya hangat yang baru setitik kau beri
Aku masih meracau bila mengingat kerling sudut matamu yang mengunci makna
Karena ku belum lama menatap senja di lingkaran langitmu

Jangan merapuh jinggaku…
Aku tak ingin doa panjangku tanpa wajahmu
Siapa yang akan ku temui jika hanya lampu lampu malam tanpa ada senjamu?
Denting  parau suaraku tanpa lentik dawai sambutmu
Tetaplah menjadi cahaya indah di ruang waktuku
KARENA AKU LEMAH TANPA MU…


 

Puisi Dua Hati Copyright © 2010 | Designed by: Compartidisimo