skip to main |
skip to sidebar

aku ingat hari ini....
ini adalah hari dimana semesta bertasbih
semua begitu terang benderang
berjuta cahaya memancar ke langit bingar
kumandang pujian begitu kekal terhantar
tapi ada satu cahaya yang tertinggal.....
tersipu di awan kecil yang genit
sinarnya tak tertandingi kilaunya
apa yang dia tunggu?
ah...kiranya dia sedang menunggu raja angin datang
membawa pujian kata kata tuk mengisi kantung kirana cintanya
dia kan semaikan abjad abjad cinta tuk hilangkan igauan lembar hati
adinda, aku bukankah penyair tinta emas yang pandai merajuk
aku hanya pelukis langit
lukisan ku hanya berbingkai semilir angin dan kuas jerami
garis yang ku gambar pun kadang tak utuh jika kau pandang
begitu sederhana ......
sungguh aku ingin melukiskanmu sempurna dalam romansa ku
entah sampai kapan kan ku gores garis garis lengkung pelangimu
selama langit bertiangkan gunung
selama akar pohon tak berhenti menggantung pada bumi
selama angin bermanja pada desirnya
percayalah....
aku kan tetap memuji mu dengan tasbih kayu pemberianmu
dalam doa yang terhantar kala malam diujung pagi
kala batas senja dan gelap berganti.
happy birth day adinda 8813
aku rindu mengeja baris tentangmu.....
seperti rindu laut pada biru
seperti jingga pada awan
ya ini rindu yang sama.....
sajakku tak mengering...
aku masih di musim rintik air yang sama
dengan payung hitam yang kau beri
aku masih meneduh di setiaku
kemarau bait yang kemarin itu buka jeda
aku tak lupa dengan kalimat kalimat doa untumu....
aku ingin kau teduh diufuk langitmu
langit senja di imagiku bukan hanya keindahan
ia adalah uraian indah tanpa henti
laksana rintik hujan yang tak tertahankan di savana
hingga aku tak pernah jenuh tenggelam di dalam mu
segala tentangmu sudah ku hisap sendiri ...
hingga ku lupa rongga paruku tak cukup menahanya
jingga...
bisakah kau tak pisahkan anatara malam dan senja?
aku ingin , kau indah tak terpisahkan
biar....waktu saja yang memilih
antara jingga dan langit
aku ingin cinta memadukan nya
hinga ufuk menjadi cerah
dan kau pun tesenyum di dalamnya
aku lebih memilih teduh dibelantara doa
aku hanya akan membawa syair cahaya
aku hanya pelukan dingin dihamparan hangat permadanimu
aku hanya satu huruf diantara berjuta indah abjad indahmu
aku hanya satu jendela kecil yang akan riang jika kau buka
lama aku tak mengeja baris
bukan beku...
aku yang tak sanggup mengungkap sendu
kabar dari langit menghimpun awan pahit
membuat aku mengigil
aku hampir mati hati....
aku memukul mukul kekecewaan pada awan
menghujamkan hujatan pada baris matahari
mengumbar serapah pada hujan
mengapa harus jingga yang kau serap?
sedang aku masih biru beku didalamnya
saat ini aku lebih banyak mengadu
isyarat pasir masih memanggil ombak
sekejap air mengalir
sekejap batu menghadang
hidup adalah aksara panjang dimana kan ada titik yg mengakhiri
disetiap doa malamku
aku tenggelam dalam air mata
membawa harap yg tak pernah pudar
bahwa akhir dari sebuah doa adalah indah
usah meredup pelangiku