Senin, 03 September 2012

the soul....



telah lama aku megembara ke tanah yang jauh
hanya berbekal namamu yang terbawa dalam luas langit
walau dahaga menganga di hujan yang tak terbendung
entah keyakinan apa yang merenggut semua imagiku  
dan aku semakin terlarut dalam asap tujuh samudra mu
menenggelamkan keimanan dalam alur jauh nalar lelakiku

aku tak mungkin meninggalkan mu dikiri arahku
karena kau adalah angin utaraku...
aku tak mungkin menikam mu hingga jauh...
karena kau adalah buah khuldi ku di kuil ku
takala Adam belum tergoda bingar dunia
kau adalah susunan abjad tanpa titik


aku tak pernah membedakan antara mencinta atau membecimu...
aku tak pernah menolak atau menanti takala bumi memeluk aku
semua itu sudah dalam kaidah janjiku pada langit
tak perduli musim berubah dari jingga menjadi biru
aku adalah poros yang tak bertumpu pada sumbu kala di sisimu
aku adalah dzat yang ada pada pohon abadi di hijau musim semimu

ada dan tiada mu...
kau adalah keabadian ku 

















Kamis, 24 Mei 2012

Catatan kecil…..







Musim apa ini…
Alang alang begitu menggersang
Tak terlihat riuh daun di sela rintik angin barat
Ia kini sendiri ditemani rindu malam
Kerinduan yang sempurna  telah menelanku….
Menenggelamkan bait kekaguman dalam hitungan hitam putih nilaimu
Tak ada jeda tersisa diantara doa yang ku ucap dahulu
hanya setangkai bunga eidelweis kering yang menggantung di dalam ramu  rinduku
entah sampai kapan mengering…
karena tak akan ada lagi hujan
apalagi embun…
aku hanya menunggu pagi
menunggu  langit dalam lingkarku
wahai…pemilik keindahan langit , aku dalam haru biru tentangmu



Sabtu, 28 April 2012

di sudut aku memandangmu....








Mengapa harus terus menatap?
Padahal hari sudah mulai getas meretas menuju gelap
Hanya sedikit butir cahaya yang datang
Itupun hanya  garis senyap
Terlalu beku hamba mengurai  kalimat manis tentang rindu

Aku kembali ke sudut  itu  ..
Sudut dimana aku menatapmu tanpa reda
Tatapan dimana  aku luluh dalam bait kekaguman tentangmu
Tak ada tempat bertanya…..
Tak ada jeda menyela ,semua ini tentang  10 menit  43 detik itu

Tak ingin bergegas lekas
Walau musim berhenti dan reda
Beribu kata ini masih ingin menjabarkan kaidah indah tentangmu
Jangan berhenti mencintai langit
Aku dalam lingkup sunyi kekasihku, jangan bergegas pergi..
Aku masih ingin dalam genggam  rintik hujan  kecil denganmu
Yaa… hujan yang membawa  kehangatan sepanjang boulevard  itu
Percayalah…
 

Puisi Dua Hati Copyright © 2010 | Designed by: Compartidisimo