Kamis, 28 Januari 2016

Kisah sehabis pergi


Ada sebuah bangku di taman
Dan disana aku dan kamu berdiam
Bukan sekedar diam berdua tetapi
Menulis larik larik sajak cinta
Diantara batas antara air dan udara
Dalam bianglala huruf yang kau tak pagari
Yang aku tak pernah letih menulisnya

Aku yang penuh siasat
Untuk selalu ada di asamu
Tak pernah fana...
Meski kadang ku sisipkan rindu ku
Pada selembar daun
bahkan ...
Pada sekuntum kelopak mawar
Dan aku tak pernah lelah....
Mungkin hingga jasad ini terbaring
Dan mata ini terpejam

Tahukah kau tentang aku
Ketika aku menunggumu ?
Kau seperti udara subuh yang ku hisap
Dengan wangi melati di setiap penjurunya
Lebih semerbak dari secangkir kopi hitam
Yang ku nikmati ketika matahari keluar dari sembunyi
Tidak ada alasan tidak ku hisap dan ku sesap

Merasa kah engkau
Ketika aku merindu mu?
Aku butiran embun yang gugup
Menghadapi fajar yang kan pijar..
Aku laksana hitam yang tak bisa menjaga malam...
Usah kau tenggelamkan aku
Biar tutur ini tetap berucap
Biar basah bibir ini merenda doa
Meski hanya untuk sebait nama mu
Senja

Rabu, 09 Desember 2015

Engkau ,Aku dan kopi

Ijinkan aku ingin merupa mu
Di sepanjang cahaya sebelum fana
Dideras waktu
Disetiap puja puja
Diantara ufuk terbit dan tenggelam
Yang selalu membuatku  terhanyut
Larut..

Ijinkan aku mencaci aku
Yang tak bisa melepas bait
Menghilangkan syair pujian tentang mu
Karena aku yang selalu meretas gundah mu
Hingga kamu muak...
Lalu beranjak meninggalkan matahari

Ijinkan aku melantun doa
Memohon kepada Tuhan ku
Hilangkan gigil yang begitu deras
Karena menahan rindu pada hangat asmara yang engkau bekukan

Ijinkan aku tidak menumpahkan
Kopi yang engkau tuang kan gadis
Karena aku masih mencintai engkau
Aku masih ingin menikmati seduhan mu
Hingga tetes terakhir yang memanja rasa

Ijinkan aku selalu mencintamu gadis...




Kamis, 26 November 2015

Jeda

Hujan yang sempurna
Untuk mengundang lintang pelangi
Warna nya tak terganti dan terhenti
Masih dalam warna sederhana
Namun Tak memudarkan indahnya
Masih menggumandangkan ikhlas

Aku masih di musim yang sama
Untuk Menunggu....
Dalam syair yang tak pudar
Masih menyisakan keajaiban abjad
Yang kau kagumi

Aku hampir menjadi badai tanpa deru
Gelombang tanpa riak
Angin tanpa semilir
Hanya karena aku lupa ..
Bahwa aku hanyalah keterbatasan
Antara awal dan akhir
Sebuah paragraf
Yang kau sebut
Puisi

 

Puisi Dua Hati Copyright © 2010 | Designed by: Compartidisimo