Senin, 12 Mei 2014

JINGGA





Aku mulai merasa berdosa pada langit
Membiarkan ujung jari jari ini terus berkata sombong..
Padahal dia sudah mengaduh gaduh tentang rindu 
Langit tidak berdiam 
Langit terus bergunam 
bahwa aku butuh hadirmu untuk peneduh jiwa ragaku

Aku hanya perduli kepada siapa aku 
Tanpa perlu memelas pada ke akuan ku bahwa aku hanya desir angin kecil di samudra badai keangkuhan
Aku hampir mati lemas tak bernadi
Begitu kerontang aku setelah langit tak berongga
Aku hanya bisa berbisik pada samudra 
Hantarkan uap udara pada langit jingga

Ijinkan aku memberi  cinta di setiap hela nadiku
Cintaku adalah doa doa di tengadah sepertiga malam terjagaku
Langit adalah tempat semua ucap ku terdawam 
Jangan tertidur indahku...
Jangan kau simpan dendam rindam 
Kamu adalah takdir bahagiaku
Kamu adalah  munajat terakhir di ujung nafasku




Senin, 11 November 2013

sajak angin





Kutulis sajak ini takala hujan gerimis
Ketika kaki kaki air menyentuh bumi  dengan deras
Aku berdoa pada angin…
Berhentilah berhembus raja udara
Aku ingin menatapmu tanpa derai hujan

Agar aku bisa menggegam mu dalam  tabah
Tanpa sejengkal pun ku goyah dalam asa
Karena Kamu adalah keindahan di ujung pelangi
Walau garis lengkung mu tak sempurna
Bias ikhlas  mu yang membuatku mencinta

Rahim Hawa mu melahirkan surga kecil
Yang ku sebut malaikat malaikat suci
Aku iri pada cara mu membelai  tubuh mungil malaikat malaikat mu
Kamu takan tau betapa aku mengakui
bahwa indah mu adalah bunga dari keikhlasan

aku pernah berdiri di pusaran angin
hanya tuk mencari ujung  cahaya mu
menjadi  pengembara ….
hanya tuk menemukan mu dalam  serpihan terkecil cinta
aku takan menyerah menemukan mu hingga ku kembali pulang


http://4.bp.blogspot.com/-5thVJT7u99U/Uhgo-GtS8OI/AAAAAAAAATk/8POO2faBEIk/s1600/sign.png

Kamis, 17 Oktober 2013

ikrar






Aku ikuti jejak langkah kecilmu gadis kecil
Mengikuti kearifan yang kau coba ingatkan
Aku tak akan berucap bahkan mengaduh ketika kamu pergi
Pergimu adalah kalimat bijak yang kau ingin, dan aku harus pahami

Aku tetap kan menjadi rumput di luas langitmu ….
Tak perduli kau injak dan aku mati menjadi ilalang
Akar keyakinan ku telah menjadi ikrar kepada sang pemilik arasy
Bahwa aku kan menjadi cahaya kecil mu di semu matahari

Aku takan lupa …
Detik detik yang kulalui bersama mu ……
Setiap bait kerling mata mu selalu ku tafsirkan dengan indah
Masih ingatkah jembatan kecil kayu yang kita seberangi?
Dibawah  pohon tanjung yang terguyur riak angin kecil
 

Puisi Dua Hati Copyright © 2010 | Designed by: Compartidisimo