Senin, 12 Mei 2014

JINGGA





Aku mulai merasa berdosa pada langit
Membiarkan ujung jari jari ini terus berkata sombong..
Padahal dia sudah mengaduh gaduh tentang rindu 
Langit tidak berdiam 
Langit terus bergunam 
bahwa aku butuh hadirmu untuk peneduh jiwa ragaku

Aku hanya perduli kepada siapa aku 
Tanpa perlu memelas pada ke akuan ku bahwa aku hanya desir angin kecil di samudra badai keangkuhan
Aku hampir mati lemas tak bernadi
Begitu kerontang aku setelah langit tak berongga
Aku hanya bisa berbisik pada samudra 
Hantarkan uap udara pada langit jingga

Ijinkan aku memberi  cinta di setiap hela nadiku
Cintaku adalah doa doa di tengadah sepertiga malam terjagaku
Langit adalah tempat semua ucap ku terdawam 
Jangan tertidur indahku...
Jangan kau simpan dendam rindam 
Kamu adalah takdir bahagiaku
Kamu adalah  munajat terakhir di ujung nafasku




1 komentar:

IrmaSenja mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Posting Komentar

 

Puisi Dua Hati Copyright © 2010 | Designed by: Compartidisimo