Senin, 02 September 2013

sajak badai








Adakah yang menerbangkan rindu menjadi abu?
Perapian yang kau nyalakan telah membakar  akar jerami
Kini hanya abu ditanah gersang yang tertiup angin kau sisakan
Entah apa salah angin hingga jerami menjadi bara ?

Kini angin hanya menerbangkan sisa kesia-sian yang membatu
Mungkin hanya  bulir air yang mengerti  betapa sedihnya  bunga bunga padma
Tanpa hadirnya cahaya dan semilir angin ….
Sejak  sajak ku terbakar ,kau tak menoleh lalu bergegas pergi begitu saja

 Firdaus yang kau ciptakan  kau  tinggalkan
Bukan karena badai…
Karena aku bukan lagi pengayuh perahu yang  kau tumpangi
Kau lebih  baik berjalan  dan tenggelam dalam taman  cakrawalamu

Sungguh aku bukan matahari yang kan selalu menjadi cahayamu
Aku bukan gulita yang kan meneduhkan malam dalam  mimpi mimpimu
Aku bukan tuan puan yang kan merajai semua  hitungan detik  waktumu
Aku hanya baris baris doa  sederhana yang mungkin sesekali kau eja


Sabtu, 24 Agustus 2013

semesta hati








aku ingat hari ini....
ini adalah hari dimana semesta bertasbih
semua begitu terang benderang
berjuta cahaya memancar ke langit bingar
kumandang pujian begitu kekal terhantar
tapi ada satu cahaya yang tertinggal.....
tersipu di awan kecil yang genit
sinarnya tak tertandingi kilaunya

apa yang dia tunggu?
ah...kiranya dia sedang menunggu raja angin datang
membawa pujian kata kata tuk mengisi kantung kirana cintanya
dia kan semaikan abjad abjad cinta  tuk hilangkan igauan lembar hati

adinda, aku bukankah penyair tinta emas yang pandai merajuk 
aku hanya pelukis langit 
lukisan ku hanya berbingkai semilir angin dan kuas jerami
garis yang ku gambar pun kadang tak utuh jika kau pandang 
begitu sederhana ......
sungguh aku ingin melukiskanmu sempurna dalam romansa ku
 

entah sampai kapan kan ku gores garis garis lengkung pelangimu
selama langit bertiangkan gunung
selama akar pohon tak berhenti menggantung pada bumi
selama angin bermanja pada desirnya 
percayalah....
aku kan tetap memuji mu dengan tasbih kayu pemberianmu
dalam doa yang terhantar kala malam diujung pagi
kala batas senja dan gelap berganti.



happy birth day adinda 8813

Jumat, 24 Mei 2013

surat pendek untuk senja







aku rindu mengeja baris tentangmu.....
seperti rindu laut pada biru
seperti jingga pada awan
 ya ini rindu yang sama.....

sajakku tak mengering...
aku masih di musim rintik air yang sama
dengan payung hitam yang kau beri
aku masih meneduh di setiaku
kemarau bait yang kemarin itu buka jeda
aku tak lupa dengan kalimat kalimat doa untumu....
aku ingin kau teduh diufuk langitmu

langit senja di imagiku bukan hanya keindahan
ia adalah uraian indah tanpa henti
laksana rintik hujan yang tak tertahankan di savana 
hingga aku tak pernah jenuh  tenggelam di dalam mu
segala tentangmu sudah ku hisap sendiri ...
hingga ku lupa rongga paruku tak cukup menahanya

jingga...
bisakah kau tak pisahkan anatara malam dan senja?
aku ingin , kau indah tak terpisahkan
biar....waktu saja yang memilih
antara jingga dan langit
aku ingin cinta memadukan nya
hinga ufuk menjadi cerah
dan kau pun tesenyum di dalamnya





 

Puisi Dua Hati Copyright © 2010 | Designed by: Compartidisimo